RSS

hipokinesia

27 Jun

hipokinesiaA. Pengertian Hipokinesia
Sudah dapat kita lihat dari kata hipokinesia, terdiri dari 2 gabungan antara Hipo dan kinestic, hipo menandakan sesuatu yang kurang dari normal sedangkan kinestic adalah gerakan atau aktivitas, jadi arti dari hipokinesia adalah kurangnya gerak dan aktivitas tubuh seseorang sehingga menyebabkan kelemahan dan muncul berbagai penyakit.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ketidakaktifan fisik adalah istilah untuk mengidentifikasi orang-orang dengan tingkat aktivitas fisik teratur yang rendah atau tidak sama sekali sehingga pembakaran energinya tidak lebih dari 1,5 kali pembakaran energi saat beristirahat.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Indonesia tahun 2007, saat ini 48,2 persen masyarakat berusia lebih dari 10 tahun kekurangan aktivitas fisik. Di dunia, menurut WHO 60-80 persen populasi dewasa tidak aktif secara fisik.
Tahukah Anda dengan istilah hipokinesia? Istilah kesehatan ini menunjukkan kurangnya aktivitas gerak pada tubuh manusia. Hipokinesia (kurang gerak), menjadi hal yang lumrah bagi orang-orang yang sibuk di kota-kota besar. Kesibukan kantor dan banyaknya pekerjaan seringkali menjadi alasan banyak orang untuk tidak berolahraga. Semakin banyak dari kita yang terjerat rutinitas bekerja tidak mempunyai waktu untuk melakukan gerak badan yang manfaatnya sangat besar.
Padahal tanpa olahraga, tubuh menjadi rentan terhadap penyakit, lebih mudah lelah karena peredaran darah yang tidak lancar serta kerugian lainnya. Olahraga yang teratur diyakini dapat mengurangi resiko penyakit jantung, stroke dan menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Bahkan para ahli meyakini bahwa olahraga berpengaruh besar terhadap kinerja otak. Sebenarnya kesibukan bukanlah penghalang untuk berolahraga atau melakukan gerak badan, karena olahraga adalah kegiatan fisik yang sesungguhnya bisa disesuaikan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Bergerak yang menyehatkan seperti melakukan olahraga , Banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya olahraga. Namun banyak juga yang sadar, tapi ada saja alasan mereka untuk tidak berolahraga. Alasannya beragam, ada yang sibuk, malas, dan ada juga yang bilang olahraga itu hanya membuang-buang tenaga dan waktu saja. Pemikiran seperti itu harus dihilangkan, karena hal itu salah besar. Sehingga muncullah kebiasaan hipokinesia.

B. Bahaya dan dampak Hipokinesia
Hipokinesia memiliki banyak dampak yang tidak baik, bukan hanya untuk diri sendiri (terutama tubuh kita) namun juga memperngaruhi lingkungan sekitar kita, contohnya saja produktivitas kerja yang tidak maksimal akibat sikap malas kita dalam mengerjakan sesuatu yang selalu ingin mencari jalan pintas yang mudah dan tak memerlukan banyak tenaga.

Tahukah anda bahwa gaya hidup yang terlalu santai mampu memperburuk kesehatan kita. Seperti diketahui bahwa kesibukan biasanya pemicu kita untuk menghabiskan waktu luang yang kita miliki untuk bersantai, rebahan, ataupun bermalas-malasan. Gaya hidup tidak aktif ini dalam jangka panjang memancing datangnya penyakit. Tubuh manusia didesain untuk selalu bergerak sehingga sangat dianjurkan untuk rajin olahraga. Namun kesibukan sering tidak menyisakan waktu luang untuk melakukannya. Dan inilah akibatnya jika tidak pernah olahraga.

Ketika otot dan rangka tubuh bergerak, denyut jantung akan meningkat sehingga darah beserta oksigen dan nutrisi yang dibawanya akan terdistribusi dengan baik. Mekanisme ini tidak terjadi jika tubuh tidak olahraga.

Terganggunya distribusi oksigen paling berdampak pada otot, yang menyebabkan rasa pegal-pegal di seluruh tubuh. Otot akan terasa kaku-kaku saat kekurangan oksigen, yang memang berfungsi menjaga fleksibilitas atau kelenturan otot. Sakit pinggang juga bisa disebabkan kurangnya berolahraga. Duduk dengan posisi buruk dan kelemahan otot akan menyebabkan sakit pinggang. Kebanyakan profesi kita saat ini menghabiskan waktu dengan duduk di kursi menghadapi komputer atau berkas-berkas yang perlu diselesaikan. Kelenturan tulang dan sendi kita khususnya pinggang menjadi berkurang dan sedikit kaku.

Sakit pinggang juga bisa disebabkan kurangnya berolahraga. Duduk dengan posisi buruk dan kelemahan otot akan menyebabkan sakit pinggang. Kebanyakan profesi kita saat ini menghabiskan waktu dengan duduk di kursi menghadapi komputer atau berkas-berkas yang perlu diselesaikan. Kelenturan tulang dan sendi kita khususnya pinggang menjadi berkurang dan sedikit kaku

Penelitian menunjukkan orang yang kurang berolahraga akan mempunyai otot pinggang yang kaku dan keras

Selain itu, kekurangan oksigen juga menyebabkan kerja otak tidak maksimal sehingga mudah pusing dan susah menjaga konsentrasi. Otak yang ukurannya hanya 2 persen dari total massa tubuh dikenal sangat rakus, sebab konsumsi oksigennya mencapai 20 persen kebutuhan total seluruh tubuh.

Pengaruhnya terhadap sistem saraf, tidak bergerak seharian saja akan menyebabkan bagian-bagian tertentu dari tubuh mengalami tekanan yang konstan sepanjang hari. Akibatnya terjadi gangguan saraf di bagian tersebut dan memicu berbagai keluhan ringan seperti nyeri dan kesemutan.

Tidak bergerak dan berolahraga juga akan berdampak pada distribusi cairan limpa. Tidak seperti darah yang memiliki jantung sebagai pemompanya, limpa sangat tergantung pada gerakan otot untuk bisa didistribusikan ke berbagai jaringan tubuh.

Padahal cairan limpa yang diproduksi oleh suatu kelenjar tanpa saluran (ductless) ini merupakan bagian dari sistem imun atau kekebalan tubuh. Dampaknya tentu saja kekebalan tubuh akan menurun, sehingga mudah terserang penyakit terutama jika sedang musim flu.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Hong Kong pernah mengungkap, dampak jangka panjang dari tidak pernah berolahraga tidak kalah berbahayanya dengan merokok. Penelitian yang dilakukan tahun 2004 itu menyebut, 20 persen penyebab kematian orang dewasa berusia 35 tahun ke atas adalah kurang olahraga.

Risiko kanker pada pria meningkat 45 persen akibat tidak pernah berolahraga, sementara pada wanita peningkatannya lebih kecil yakni 28 pesen. Risiko gangguan pernapasan yang berhubungan dengan kesehatan paru-paru juga meningkat sebesar 92 persen pada pria dan 75 persen pada wanita.

“Penyebabnya bisa dilihat dari berbagai faktor, termasuk kebiasaan dan kelas sosial; atas, menengah, dan bawah. Kalangan ekonomi bawah harus kerja keras, jadi fisiknya aktif. Kalangan menengah kadang aktif, dan kalangan atas, saat semuanya serba ada, badan kurang dilatih untuk bergerak,” jelas Nano Oerip, Fitness Training Manager Fitness First usai peluncuran International Fitness Week 2011 di Senayan City, Jakarta, belum lama ini.

Pola hidup yang tidak aktif meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, dan kolesterol. Kalori yang mengendap, terutama, bisa mengakibatkan diabetes tipe 2. Faktanya, 66 persen populasi Asia kena diabetes tipe 2 akibat obesitas yang tentu berawal dari kurang gerak. Indonesia sendiri masuk posisi keempat negara dengan penderita diabetes tipe 2 terbanyak, setelah China, India, dan Amerika Serikat.

Meski banyak faktor saling terkait dengan risiko penyakit, seperti olahraga, makanan, lingkungan, dan spiritual, Nano menegaskan bahwa faktor aktivitas atau bergerak memainkan peran utama.

“Saya kasih gambaran kehidupan orang desa. Mereka bangun bagi, ngeretek (merokok kretek-red), sarapan komplit, membajak sawah 3-4 jam, lalu makan siang komplit, minum teh manis, ngeretek, membajak sawah lagi, begitu seterusnya. Tapi, mereka bisa hidup lebih lama. Kita dengan teknologi yang ada, ternyata tidak menjamin (kesehatan),” jelasnya.

“Pertama adalah aktivitas atau gerak. Bagaimana caranya kita tidak menyepelekan gerakan, karena bergerak akan memicu metablisme untuk tidak selalu sama, sedikit apapun, 30 menit saja sudah cukup,” imbuhnya.

Beberapa efek negatif duduk terlalu lama, seperti:

1. Tubuh mulai mematikan fungsi-fungsi pada level metabolisme. Saat otot—terutama otot-otot besar untuk bergerak seperti kaki—menjadi tidak bergerak, sirkulasi akan melambat dan tubuh akan membakar kalori lebih sedikit.

2. Membahayakan kesehatan postur dan tulang belakang.

3. Enzim-enzim yang bertanggung jawab memecah trigeliserida (sejenis lemak) mulai tak aktif. Semakin lama duduk, semakin menurun aktivitas enzim hingga 50 persen.

4. Kegiatan olahraga 30 menit di klub kebugaran tidak cukup untuk melawan dampak buruk akibat duduk 8-10 jam.

Barangkali pengetahuan tentang dampak buruk jika tidak melakukan olahraga sama sekali, sementara kegiatan fisik yang lain tidak cukup berarti, bisa menjadi pegangan untuk mendorong motivasi. Menurut Hario Tilarso, dampak buruk jangka pendek yang dirasakan adalah tubuh yang tidak fit, tidak bugar alias loyo. Pasalnya, badan tidak terlatih untuk melakukan akvitas fisik, sehingga tidak cuma otot, jantung pun jadi lemah. Padahal, jantung merupakan pusat kehidupan manusia.
“Kalau jantung tidak dilatih, daya pompanya jadi kurang kuat mengedarkan darah dan oksigen. Akibatnya, otak kekurangan oksigen, jaringan kurang darah, sehingga Anda jadi lemas; tidak kuat mengerjakan pekerjaan yang simpel. Kita bekerja delapan jam sehari. Kalau badan tidak bugar, kita tidak akan bisa duduk di kantor terus. Akhirnya, produktivitasnya menurun. Sebaliknya, kalau kita berlatih, jantung jadi kuat. Sekali memompa, darah bisa ke mana-mana. Itu yang bikin orang fit,” jelas dr. Hario.
Dalam jangka panjang dampaknya cukup buruk, yakni munculnya penyakit yang disebabkan oleh hipokinesia (kurang gerak). Di antaranya, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, jantung, artritis, hiperkolesterolemia, dan obesitas. “Setelah berapa lama penyakit-penyakit tadi muncul, tergantung pada masing-masing individu. Orang yang rentan terhadap penyakit jantung mudah mendapat serangan. Juga tergantung pada makanan yang dikonsumsi. Kalau tiap hari makan lemak melulu, dalam tiga atau empat bulan dia mungkin bisa menderita serangan jantung. Tetapi kalau sesekali saja, mungkin agak lama,” jelas dr. Hario.
Albert M. Hutapea dalam bukunya Menuju Gaya Hidup Sehat mengungkapkan, penelitian selama 16 tahun terhadap 17.000 alumnus Universitas Harvard menunjukkan, mereka yang tidak aktif berolahraga (yang membakar tidak lebih dari 500 kalori per minggu dalam kegiatan olahraga) lebih cenderung mengidap penyakit jantung. Kemungkinan meninggal karena penyakit jantung dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang aktif melakukan olahraga. Penelitian itu juga membuktikan, mereka yang tidak aktif berolahraga umurnya 4 – 5 tahun lebih pendek. Penelitian yang dilansir dalam British Journal of Sport Medicine tahun 2010 menyebutkan orang yang duduk atau tidak aktif secara fisik dalam waktu panjang memiliki risiko terkena penyakit lebih tinggi. Kegemukan akibat kurang bergerak ini juga akan menyebabkan kematian dini. Menurut American Cancer Society pada Juli 2010, 94 persen wanita dan 48 persen pria menghabiskan waktu dengan duduk atau tidak aktif selama 6 jam sehari memiliki risiko meninggal lebih cepat daripada mereka yang aktif dan duduk kurang dari 3 jam sehari.
Kurang berolahraga merupakan salah satu faktor penyebab penyakit satu ini. Jarangnya berolahraga dapat menyebabkan obesitas. Berat badan yang berlebihan memberikan tegangan atau beban ekstra pada jantung dan pembuluh darah, sehingga beresiko menimbulkan penyakit jantung.

C. Mencegah terjadinya hipokinesia
Apakah Anda jenis orang yang suka bermalas-malasan di tempat tidur saat akhir pekan? Jika Anda jenis orang seperti itu, ada baiknya dari sekarang untuk mulai merubah pola hidup seperti itu. Jangan anggap sepele bila Anda kurang banyak bergerak. Menurut Prof dokter Amin Husni PAK (K), SpS (K) MSc, seorang Guru Besar Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, gerak melibatkan banyak sistem tubuh, serta proses elektrofisiologis dan biokimiawi yang akan mempengaruhi dan dipengaruhi kondisi tubuh dan kejiwaan seseorang. Setiap hari tubuh perlu bergerak dan jika tak dipenuhi, akan berdampak negatif yakni menurunnya kebugaran jasmani.

Kekurangan gerak juga dapat menimbulkan tulang keropos (osteoporosis). Karena itulah, bila seseorang kurang bergerak maka ia akan kehilangan keceriaan. Gangguan gerak dapat terjadi akibat kerusakan otot, tulang atau rangka, sendi dan syaraf. Penderita stroke, juga mengalami gangguan gerak karena berkurang atau menghilangnya kemampuan menggerakkan bagian atau ruas tubuh. Sedangkan para penderita Parkinson memiliki masalah gangguan gerak seperti gemetaran, kelambatan gerak, atau tuna gerak seperti wajah tanpa mimik, jarang berkedip, dan sebagainya. Meskipun seseorang bebas dari penyakit, belum tentu orang yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai orang yang memiliki kebugaran fisik.

Kebugaran fisik akan berpengaruh pada daya tahan jantung, daya tahan otot, kelenturan tubuh, komposisi tubuh, kecepatan gerak, kelincahan, keseimbangan, kecepatan reaksi, dan kemampuan koordinasi panca indra. Denyut nadi harus selalu dimonitor, agar tidak melebihi denyut yang diperbolehkan yaitu antara 72-87 % dari denyut maksimal. Denyut nadi maksimal per-menit adalah 220 – umur, misalnya orang yang berusia 40 tahun maka denyut maksimal adalah 180 per menit. Latihan fisik memiliki kaitan dengan berolahraga.

Olah raga berfungsi sebagai cara promotif; yaitu meningkatkan ketahanan fisik (physical endurance) agar tubuh tetap bugar, preventif; dapat mencegah berkembangnya penyakit karena tubuh kurang memiliki imunitas atau kekebalan dari berbagai faktor penyakit. Contohnya, bila terjadi perubahan cuaca saja, Anda gampang terserang demam dan sebagainya. Olah raga dapat mencegah dampak negatif dari hipokinesia (kurang gerak), memperlambat proses penuaan, memperlancar proses kelahiran pada wanita hamil. Selain itu, olah raga juga dapat berfungsi sebagai cara kuratif; yaitu dapat membantu proses penyembuhan pada penyakit-penyakit jantung koroner, penyakit kencing manis, rematik, asma bronchiale, keropos tulang, dan lain-lain.

Peredaran darah orang yang berolah raga lebih lancar, sehingga racun-racun yang menumpuk di tubuh dapat cepat dikeluarkan. Olah raga juga memiliki fungsi rehabilitatif; yang diperuntukkan bagi para penyandang cacat atau penderita penyakit myopathy, cerebral palsy atau kerusakan otak, tuna rungu, epilepsi, dan sebagainya. Para penderita penyakit-penyakit tersebut perlu menyesuaikan jenis olah raga yang sesuai dengan kondisi mereka. Apabila penyandang cacat ini tidak melakukan olah raga, maka cacatnya akan bertambah karena terjadi kekurangan gerak, otot menjadi lemah, sehingga mudah timbul berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung, ginjal, saluran darah, dan lain-lain. Selain itu, olah raga bagi penyandang cacat juga sangat diperlukan untuk menghilangkan anggapan masyarakat bahwa mereka tak mampu berbuat apa-apa. Masalahnya sekarang, olah raga apa yang dapat Anda lakukan? Olah raga tersebut bersifat praktis dimana Anda tidak merasakan kesulitan mencari tempat untuk melakukannya.

Seperti yang kita semua telah mengetahuinya, bahwa jogging merupakan olah raga yang paling praktis. Jogging yang dilakukan secara teratur akan memberikan banyak manfaat bagi kondisi fisik dan kesehatan lainnya seperti:

1. Membuat jantung kuat, dimana semakin memperlancar peredaran darah dan pernafasan; Mempercepat sistem pencernaan dan membantu Anda menyingkirkan masalah pencernaan;
2. Menetralkan depresi
3. Meningkatkan kapasitas untuk bekerja dan mengarahkan pada kehidupan yang aktif; 4. Jogging membantu Anda membakar lemak dan mengatasi kegemukan
5. Kalau Anda bermasalah dengan selera makan, jogging membantu Anda memperbaikinya
6. Jogging mengencangkan otot kaki, paha dan punggung
7. Membuat tidur lebih nyenyak. Selain itu, jogging juga dapat memberikan kesenangan secara fisik maupun mental.

Apabila jogging dilakukan dengan benar, Anda tidak akan merasakan kelelahan setelah menyelesaikan satu tur lebih dari yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Otot Anda bakal merasa nyaman selama jogging dan setelahnya. Anda juga dapat merasakan semilir angin lembut yang bertiup di sekitar tubuh, mendengarkan suara burung berkicau, suara air yang mengalir, atau suara ombak di laut (jika dilakukan di pantai ). Selama jogging, Anda juga bakal merasa senang apalagi bila Anda melakukannya bersama dengan teman-teman Anda.
Rajin berolahraga akan mencegah penyakit jantung dengan meningkatkan aliran darah ke jantung dan menguatkan kontraksi jantung, sehingga jantung akan memompa lebih banyak darah dengan tenaga yang sedikit.Olahraga juga dapat mengurangi stres, yang dapat mengakibatkan penyakit jantung.

“Olahraga yang dilakukan secara teratur adalah yang cara terbaik untuk mengalahkan penyakit jantung,” kata Christine Albert dari Brigham and Women’s Hospital di Boston.

Dr. Dudey Hite menerangkan, berolahraga secara kontinyu setiap hari seperti berenang, berjalan kaki, bersepeda, joging, aerobik maupun olahraga yang lainnya sangat diperlukan untuk menciptakan tenaga cadangan bagi jantung. Dengan aktivitas tersebut jantung akan sanggup menanggung kelebihan serta ketegangan

Karena itu, olahraga menjadi keharusan bila ingin hidup sehat. Olahraga mesti dijadikan bagian dari gaya hidup. Dalam arti luas, yang dimaksud dengan olahraga sebenarnya adalah kegiatan yang dilakukan begitu rupa sehingga jantung cukup terbebani. Seperti dikutip Albert, hasil penelitian para pakar kesehatan dari Universitas Oregon menunjukkan, gejala-gejala penyakit kardiovaskuler (yang berhubungan dengan pembuluh darah balik jantung) dapat dikurangi dengan berolahraga hanya tiga kali seminggu.
Namun, ini bukan pekerjaan mudah. Albert mengungkapkan, beberapa studi menunjukkan sekitar 30% dari mereka yang mencoba memulai berolahraga rutin akan putus asa lalu berhenti berusaha. Faktor penentunya antara lain gaya hidup, perilaku, pertukaran pekerjaan, problem keluarga, dan sebagainya.
Nah, bagaimana menyiasati olahraga di tengah kesibukan kita tanpa harus meluangkan waktu khusus untuk melakukannya. Bagaimana agar tubuh tetap bugar dan gerak badan menjadi hal yang menyenangkan. Simak tips berikut :
1. Usahakan untuk selalu menggunakan anak tangga sesering mungkin, jika perlu buang jauh-jauh keinginan untuk menggunakan lift atau tangga berjalan. Anda bisa menaiki tangga dengan cepat atau mungkin menaiki 2 anak tangga sekaligus atau sebaliknya.
2. Berjalan kaki ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain murah meriah, siapapun bisa melakukannya. Berjalan kaki membantu Anda memperkuat tulang, membakar lemak dalam tubuh, serta sangat baik bagi jantung. Berjalanlah sebanyak yang Anda mampu.
Terdapat banyak cara agar Anda bisa berjalan, berjalan dan berjalan. Contohnya, parkirlah kendaraan agak jauh dari tujuan, jika Anda memindahkan barang-barang, jangan lakukan sekaligus sehingga Anda perlu berjalan bolak-balik, berbelanjalah sambil berjalan-jalan, dsb.
3. Bermain bersama anak-anak. Anda akan mendapat 2 manfaat sekaligus. Selain menyenangkan buah hati Anda, hal ini juga menjadi sarana bagi Anda untuk menggerakkan badan. Bermainlah sepuasnya, berguling-guling, saling mengejar, bermain bola, dsb.
4. Siapa bilang, bersih-bersih di rumah kegiatan yang hanya menghasilkan kelelahan. Gerak badan sambil melakukan kegiatan rumah tangga tentu sebuah kegiatan sambil menyelam minum air. Selain sehat badan, rumah pun menjadi bersih. Lakukan kegiatan mencuci baju, menyapu, mengepel (akan lebih efektif jika melakukannya tanpa gagang), membersihkan jendela, dan lain-lain dengan semangat.
5. Mulailah melakukan hobi yang memerlukan gerakan badan, misalnya berkebun atau bertukang.
Yang terpenting dari semuanya adalah motivasi. Mulai saat ini, niatkan untuk selalu hidup sehat dengan berolahraga, karena sehat merupakan kekayaan yang tanpa kita sadari tak ternilai harganya.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: