RSS

Hati-hati menonton Film Tanda Tanya “?”

28 Apr

Rabu (6 April 2011) lalu saya berkesempatan nonton Film Tanda Tanya “?” satu film terbaru dari sutradara Hanung Bramantyo. Dua hari sebelumnya mendapat email undangan dari pihak penyelenggara untuk ikut nonton di Gala Premier Film Tanda Tanya ini. Sempat ragu juga datang karena saya tidak mengenal siapa yang mengirimi email, dan judul filmnya juga tidak dicantumkan.

Karena penasaran akhirnya saya memenuhi undangan tersebut, yang belakangan saya tau judul filmnya adalah Tanda Tanya setelah melihat postingan daeng rusle di milist Angingmammiri (lagi malas googling mencari judul filmnya), Di email itu juga cuman dideskripsikan filmnya tentang anggota semimiliter Banser NU yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan sebuah gereja dari serangan bom Natal.

Setelah tiba di Djakarta Theater XXI, venue acara Gala Premier Film ini, terlihat beberapa artis, seperti Zaskia Adya Mecca yang ternyata mention saya di twitter, padahal saya ndak mention langsung dia, cuman si @revolushei yang me-RT tweet saya yang langsung me-mention dia.

Zaskia Adya Mecca

Dia mereply tweet saya tentang kekhawatiran pulang telat dan terkuncikan pintu rumah gara-gara filmnya baru diputar jam 10 padahal undangan jam 9. Tweet ini sebelum tweet saya yg mengatakan dia cantik lho, berarti dia membaca timeline saya. Zaskia ngak seperti artis kebanyakan yang me-RT tweet2 yang mengagumi dirinya sendiri.

Oh iya ada beberapa artis lagi seperti Tika Panggabean sama Ujo dan teman-temannya. Ada juga Tio Pakusodewo gandengan dengan istrinya. Ada artis yang bule, ngomongnya Inggris, tinggi, tapi saya kurang tau namanya. Terakhir saya lihat Marsella Zalianty, wajah cantiknya Indonesia, tak semenor seorang artis (tak tau namanya) yang sudah pake tanktop, rok mini banget, dan pakai high heel puluhan centi, jalannya sudah terseok-seok, masih pede ya jalan di depan umum.

Dan para artis lain yang tak saya kenal dan undangan telah hadir termasuk wartawan tentunya. Terlihat Sutiyoso sepertinya tak menonton penuh film ini. Dari jauh terlihat mobil RI 31 (Menteri Pendidikan Nasional RI) dan RI 34 (Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI) di parkir depan pintu masuk XXI.

Selasa sebelumnya sudah ada Gala Premier di Planet Hollywood, dan ini hari keduanya. Saya pun mendapat kesempatan di sesi keduanya jam 22.00 malam.

Sebelum nonton saya bertemu dengan panitia yang mengundang saya dan mempertanyakan hal ihwal mengapa saya diundang. Katanya saya termasuk dalam list blogger-blogger yang aktif ngeblog dan kunjungan ke blognya yang katanya tinggi * Ah masa sih, I dont think so about it*. Oh iya yang diundang lewat email itu memang beberapa blogger yang di ranah maya saya kenal tapi saat event tak ketemu mereka.

Selintas terdengar Hanung Bramantyo yang sedang diwawancarai media, bahwa film ini juga berkisah tentang seorang Muslim yang pindah agama. Mendengar pernyataan itu saya bersiap kalau-kalau film ini sensitif. Sempat saya tweetkan dan plurkkan pernyataan hanung ini.

Akhirnya nonton dengan segelas coca-cola dan popcorn gratis. Dan setelah menonton, takjub secara teknis dan sepertinya esensi utama yang diinginkan Hanung bisa tersampaikan dalam fikiran sempit saya kala itu. Tentang teknis film dan sedikit pesannya bisa dilihat review saya di sini.

Namun saya mencoba mengingat-ingat film ini lagi, mencoba memahami dari berbagai sudut pandang orang, dari sisi personal dan keyakinan saya. walaupun dalam komentar saya di tulisan ini, memang sempat mengkhawatirkan saya bahwa ada sisi-sisi yang kurang saya setujui dalam pembuatan film ini.

Film ini menarik yah menarik orang penasaran menontonnya karena membawa isu-isu sensitif tentang agama dan perbedaannya, di luar dari tujuan bisnis untuk meraup untung mengangkat isu yang sensitif ini. Yang mengedepankan pluralisme, yang sepertinya menyatukan keyakinan-keyakinan itu dalam satu wadah padahal tak sama.

Beberapa hal yang sebenarnya ilmu saya belum cukup memahaminya, entah itu sudah berhubungan dengan akidah agama saya, maupun juga agama yang ditampilkan dalam film ini.

Sebenarnya saya sepakat dengan esensi yang dibawa film ini bagaimana berperilaku yang baik dalam kehidupan yang berbeda agama. Namun ada beberapa nilai-nilai yang disampaikan dalam film ini sepertinya sudah sangat dalam  menyerempet ke masalah akidah masing-masing agama. Itu cara pandang saya sebagai awam.

Toleransi yang diberikan dalam film ini, sepertinya sudah masuk lebih sensitif ke ranah-ranah yang sudah jelas boleh tidak dalam agama saya, entah agama yang lain demikian juga adanya *CMIIW*. Seperti mudahnya meleburkan keyakinan dengan cara sutradaranya ataupun penulis skenarionya. Kebablasan bisa dikatakan demikian.

Saya jadi bertanya-tanya ustad, pendeta, romo, atau biksu mana yang dijadikan referensi dalam membuat film ini? Tak diberitahukannya apa yang sepantasnya disajikan dan layak untuk ditampilkan.

Jadi ingat film Ayat-ayat Cinta yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo juga, bersumber dari Novel laris Ayat-ayat Cinta karangan Habiburrahman El Sirazy. Bagian akhir film ini tidak sama dengan novel, Kang Abik menyamarkan akhir hidup maria dalam novelnya yang tak sevulgar yang ditampilkan Hanung dalam filmnya.

Kembali ke Film “?” tanda tanya ini, nilai-nilai mana saja yang telah dilanggar oleh film ini? Hmm masing-masing keyakinan tentunya punya macam tersendiri.

Ada tanggapan menarik dari rekaman Dr. Adian Husaini di youtube (link dari fajarembun). Sepertinya beliau habis menonton film ini di hari yang yang sama dengan saya, terlihat dari latar belakang tempat diwawancarai.

Mau dibilang saya akhirnya berfikir pragmatif yah itu hasil telaahan pemahaman saya lebih lanjut, setidaknya bisa melihat kembali dan mengevaluasi bagaimana cara berfikir saya sebelumnya.

Pesan saya, hati-hati menonton film ini. Jikalau anda belum memahami jelas agama masing-masing, tentunya anda akan mengambil semua perilaku yang dicontohkan oleh para pemain dalam film ini, padahal tidak demikian adanya.

UPDATE :

Tanggapan KH. Kholil Ridwan (Kesesatan Film “Tanda Tanya”)

“Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluralisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,”

Menurut Cholil, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.

Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Cholil mengingatkan.

Sumber   http://asruldinazis.wordpress.com/2011/04/08/hati-hati-menonton-film-tanda-tanya/

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: